Penyakit Autoimun, Apa Gejalanya?

Sep 12th

Penyakit autoimun dan gejala-gejalanya

Penyaki autoimun merupakan kondisi di mana sistem kekebalan tubuh seseorang – yang seharusnya melindungi tubuh dari infeksi virus dan bakteri – justru menyerang antibodinya sendiri karena dianggap sebagai “benda asing”.

Belum diketahui dengan pasti apa penyebab sistem kekebalan tubuh bisa menyerang tubuhnya sendiri. Namun, memang ada beberapa orang yang mempunyai risiko lebih tinggi terkena penyakit autoimun.

Dalam dunia medis, terdapat lebih dari 100 jenis penyakit autoimun. Jadi, untuk gejala autoimun sendiri, sebenarnya tidak ada spesifikasi seperti apa.

“Gejalanya ada beragam dan ini sesuai dengan diagnosis penyakitnya itu sendiri. Jadi, kalau ditanya seperti apa gejalanya, maka jawabannya ada banyak dan sesuai dengan jenis penyakit yang dialami oleh pasien,” jelas dr. Astrid Wulan Kusumoastuti dari KlikDokter.

Meski tidak ada gejala spesifik, tapi ada beberapa gejala umum yang mungkin bisa menjadi diagnosis seseorang terkena autoimun, yaitu:

Sering merasa lelah 
Otot sering terasa pegal 
Kulit menjadi lebih kering dan timbul ruam (gejala yang dialami oleh Raditya Dika)
Rambut rontok
Mudah stres
Sulit berkonsentrasi
Tangan bergetar
Mudah pusing
Gangguan berkemih ataupun buang air besar.

Akan tetapi, menurut dr. Astrid, gejala-gejala di atas tidak melulu selalu menjadi tanda Anda terkena autoimun. Anda perlu berkonsultasi dengan dokter dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk benar-benar mengetahui apakah Anda mengalami autoimun atau bukan.

Apa sebenarnya penyebab autoimun?

Faktanya, penyebab pasti seseorang terkena autoimun masih belum bisa diketahui. Meski demikian ada sejumlah faktor risiko yang diketahui ber peran dalam timbulnya penyakit ini.

Mengutip keterangan dr. Nadia Octavia dari dari salah satu artikelnya – tiga faktor risiko berikut perlu diwaspadai sebagai pemicu munculnya penyakit autoimun:

Genetik

“Jika Anda memiliki riwayat keluarga yang punya penyakit autoimun, maka Anda juga lebih mungkin mengidap penyakit yang satu ini. Semakin dekat hubungan darah (misal, orang tua atau saudara kembar), maka akan semakin tinggi pula risiko seseorang untuk mengalami penyakit yang sama,” jelas dr. Nadia.

Pada suatu studi disebutkan bahwa risiko anak untuk mengalami multipel sklerosis (penyakit yang diduga karena adanya mutasi genetik HLA-DRB1) meningkat 20 persen jika salah satu orang tuanya juga memiliki penyakit yang sama. Penyakit autoimun lain, seperti psoriasis vulgaris, juga cenderung diturunkan pada keluarga.

Infeksi 

Sistem kekebalan tubuh yang lemah dapat membuat seseorang mudah terkena infeksi virus penyebab penyakit. Sebab, saat terjadi infeksi virus, sistem kekebalan tubuh seharusnya bisa membedakan mana yang “lawan” dan mana yang “kawan”.

Namun, pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, imun akan kesulitan untuk mendeteksi mana infeksi yang harus dibasmi dan mana yang tidak. Akibatnya, orang tersebut akan lebih mudah terserang berbagai penyakit, termasuk autoimun.

Pola hidup tidak sehat 

“Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Scripps Institute di Los Angeles, Amerika Serikat, disebutkan bahwa faktor lingkungan dan pola hidup berperan pada 70 persen kasus penyakit autoimun. Penyebabnya bisa karena infeksi, paparan bahan toksik (seperti alkohol atau bahan kimia), dan pola diet seperti terlalu banyak mengonsumsi garam,” ujar dr. Nadia.

Tubuh akan menyaring zat apa yang boleh dan tidak boleh masuk ke dalam tubuh dari makanan. Namun, ketika Anda terserang penyakit autoimun, tubuh akan merasa kebingungan. Akibatnya zat yang seharusnya tidak masuk, jadi masuk dan menyerang sel-sel dalam tubuh.

Apakah autoimun bisa disembuhkan?

Sayangnya, sampai saat ini, belum ada metode pengobatan yang benar-benar bisa menyembuhkan autoimun. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang terdiagnosis autoimun merasa patah semangat untuk sembuh.

Mengutip keterangan dr. Devia Irene Putri dari sebuah artikelnya, pemberian obat-obatan pada penderita hanya bersifat membantu mengurangi gejala yang muncul. Kerjanya adalah dengan menenangkan reaksi peradangan, sehingga respons imun yang berlebih pun ikut menurun.

Namun, meski belum ada metode penyembuhan yang tepat, Anda tidak boleh patah semangat dan tetap harus menjalankan pola hidup sehat. Ini agar tubuh Anda tetap bertenaga dan mencegah autoimun menjalar ke sel-sel lainnya di dalam tubuh.

Berikut adalah beberapa tips pola hidup sehat bagi para penderita autoimun menurut keterangan dr. Devia:

Jauhi pencetusnya

Salah satu faktor yang jadi penyebab autoimun menyerang adalah infeksi dan paparan terhadap bahan-bahan pelarut kimiawi. Oleh sebab itu, hindari paparan tersebut dengan menggunakan alat pelindung seperti sarung tangan jika berkontak langsung dengan bahan-bahan kimiawi.

Penting juga untuk mencegah penularan infeksi dari lingkungan sekitar, misalnya dengan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, atau menggunakan masker jika berada di daerah yang berpolusi.

Menjaga pola makan 

“Konsumsilah makanan yang telah dianjurkan oleh dokter, yang sesuai dengan penyakit autoimun Anda. Misalnya, apabila Anda menderita penyakit celiac, alangkah baiknya jika Anda mengonsumsi makanan yang bebas dari gluten,” kata dr. Devia.

Gluten adalah protein yang ditemukan pada makanan, terutama dalam gandum, gandum hitam, maupun makanan yang sudah diolah seperti piza, roti, maupun kue.

“Apabila Anda menderita lupus, psoriasis, IBD, atau RA, Anda bisa mengonsumsi daging dan ikan yang berasal dari alam (bukan dalam bentuk kalengan), ubi manis, alpukat, madu, teh hijau, dan biji zaitun,” tambahnya.

Olahraga

Jangan karena sudah pasrah dengan keadaan, Anda justru jadi malas untuk olahraga dan enggan menerapkan pola hidup sehat. Padahal, olahraga dapat membantu mengurangi kelelahan atau nyeri berkepanjangan akibat autoimun.

Selain itu, olahraga juga bisa membuat Anda jadi berpikir lebih positif karena dapat mengurangi kecemasaan yang diderita ketika mengidap autoimun.

“Ada beberapa pilihan olahraga yang bisa Anda pilih, yakni yoga, tai chi, angkat beban, berjalan kaki, dan bersepeda. Lakukan minimal tiga kali dalam seminggu dengan durasi setidaknya 30 menit dalam setiap sesi,” tutup dr. Devia.

Penyakit autoimun seperti yang dialami penulis dan komedian Raditya Dika memang masih jarang ditemukan di Indonesia. Tapi, bukan berarti Anda boleh lengah. Kenali gejala dan penyebabnya. Jika Anda atau keluarga ada yang terindikasi mengalami autoimun, segera periksa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat, sesuai dengan jenis penyakitnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *